Modul 1: Pengantar ke Bisnis Ritel
Tujuan Belajar
Setelah mempelajari modul ini, anda diharapkan dapat:
1. Mengetahui tren dalam industri ritel 2. Memahami fungsi dan karakteristik dasar ritel 3. Mengetahui peluang bisnis ritel di Indonesia
Format Bisnis Ritel
Kata ritel berasal dari bahasa Prancis, retallier,
yang berarti memotong atau memecah sesuatu.
Usaha ritel atau eceran (retailing) dapat dipahami
sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam
penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan
bukan penggunaan bisnis. Ritel juga merupakan
perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang
melakukan penambahan nilai terhadap produk- produk dan layanan penjualan kepada para
konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga.
Ritel juga melibatkan layanan jasa, seperti jasa layanan antar (delivery service) ke rumah-rumah.
Tidak semua ritel dilakukan di dalam toko. Contoh ritel yang dilakukan di luar toko (non-store)
antara lain penjualan album rekaman di Internet, penjualan langsung (direct sales) kosmetik
AVON, maupun penggunaan media lainnya seperti katalog atau daftar belanja. Kegiatan yang
dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk, jasa atau keduanya kepada
konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun bersama.
Para peritel berupaya memuaskan kebutuhan
konsumen dengan mencari kesesuaian antara
barang-barang yang dimilikinya dengan harga,
tempat dan waktu yang diinginkan pelanggan. Ingat
kiat sukses peritel. Coba pikirkan bahwa ritel sebagai
kegiatan terakhir dalam jalur distribusi yang
menghubungkan produsen dan konsumen.
2
PRODUSEN → PEDAGANG BESAR →RITEL → KONSUMEN AKHIR
Selama 20 tahun terakhir ini, telah banyak bermunculan format ritel-ritel baru. Konsumen saat
ini dimungkinkan untuk membeli produk yang sama dari format ritel yang berbeda, hal ini
menunjukkan bahwa sebenarnya tidak mudah melakukan pengklasifikasian ritel, mengingat
beberapa ritel dengan format yang berbeda ternyata menyediakan barang dengan jenis yang
sama. Sebagai contoh, sebuah hypermarket menyediakan pula sejumlah produk fashion
(busana) maupun elektronik. Di sisi lain terdapat beberapa tipe ritel baru yang dapat
berdampingan dengan ritel tradisional.
Ritel-ritel tersebut menawarkan keuntungan-keuntungan berbeda bagi konsumen sehingga
konsumen menjadi tertarik untuk membeli pada ritel tersebut. Ritel sebelumnya hanya
bertindak sebagai bisnis lokal yang dikelola dan dioperasikan oleh orang-orang yang menetap
dalam komunitas yang sama dengan lokasi bisnis ritel. Namun saat ini fenomena tersebut
sudah berubah. Berbagai ritel asing seperti Walt-Mart, Giant, dan Carrefour mulai menjadi
perusahaan global yang mampu melakukan ekspansi pasar hingga ke berbagai negara di dunia.
Perbedaan yang Mendasar dan Terus Berkembang dalam Format Ritel
Sejalan dengan munculnya beragam format ritel
baru, saat ini konsumen dapat membeli barang
yang sama dari sejumlah ritel berbeda. Contohnya
hypermarket yang menekan keberadaan
supermarket dalam format ritel barang dagangan
kategori makanan di Indonesia. Masing-masing
format ritel menargetkan segmen pasar yang
berbeda dan yang menggambarkan tren atau
kecenderungan terhadap keanekaragaman barang
dagangan yang semakin meningkat. Supermarket
(dengan luas area antara 1.500-3.000 meter persegi) dapat dikategorikan sebagai format utama
3
sedang format lain yang lebih kecil adalah minimarket seperti Alfa Minimarket. Ritel jenis ini
biasanya berupa toko yang lebih kecil yang dibangun di lokasi pinggiran kota. Tiap jenis ritel
menawarkan manfaat yang berbeda, sehingga para konsumen bisa berlangganan pada ritel
yang berbeda untuk pembelian dan kebutuhan yang berbeda.
Karakteristik Dasar Ritel Karakteristik dasar ritel dapat dipergunakan sebagai dasar mengelompokkan jenis ritel.
Terdapat tiga karakteristik dasar yaitu: a) Pengelompokkan berdasarkan unsur-unsur yang digunakan ritel untuk memuaskan
kebutuhan konsumen b) Pengelompokkan berdasarkan sarana atau media yang digunakan c) Pengelompokkan berdasarkan kepemilikan
A. PENGELOMPOKKAN BERDASARKAN UNSUR-UNSUR YANG DIGUNAKAN RITEL UNTUK
MEMUASKAN KEBUTUHAN KONSUMEN 1. Jenis barang yang dijual 2. Perbedaan dan keanekaragaman barang yang dijual 3. Tingkat layanan konsumen 4. Harga barang Berdasarkan unsur-unsur diatas, ritel dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Supermarket tradisional
Supermarket traditional melayani
penjualan makanan, daging, serta produk
produk makanan lainnya, serta melakukan
pembatasan penjualan terhadap produk
produk nonmakanan, seperti produk
kesehatan, kecantikan, dan produk-produk
umum lainnya. Sedangkan supermarket
konvensional yang lebih luas yang juga
menyediakan layanan antar, menjual roti
dan kue-kue (bakery), bahan makanan mentah serta produk nonmakanan disebut
sebagai superstore.
4
b. Big-box retailer Lebih dari 25 tahun berikutnya, supermarket mulai berkembang dengan semakin memperluas ukuran dan mulai menjual berbagai produk luar negeri yang bervariasi.
Pada format big-box retailer, terdapat beberapa jenis supermarket, yaitu supercenter,
hypermarket, dan warehouse club. Supercenter adalah supermarket yang
mempunyai luas lantai 3.000 sampai
10.000 meter persegi dengan variasi
produk yang dijual, untuk makanan
sebanyak 30-40% dan produk-produk
nonmakanan sebanyak 60-70%.
Supermarket jenis ini termasuk
supermarket yang tumbuh dengan cepat.
Persediaan yang dimiliki berkisar antara 12.000-20.000 item. Supermarket jenis
ini memiliki kelebihan sebagai tempat belanja dalam satu atap (one stop
shopping) sehingga banyak pengunjungnya yang datang dari tempat jauh.
Hypermarket merupakan supermarket
yang memiliki luas antara lebih dari 18.000 persegi dengn kombinasi produk makanan
60-70% dan produk-produk umum 30- 40%. Hypermarket merupakan salah satu
betnuk supermarket yang memiliki
persediaan lebih sedikit dibanding
supercenter, yaitu lebih dari 25.000 item
yang meliputi produk makanan, perkakas
(hardware), peralatan olahraga, furniture, perlengkapan rumah tangga,
computer, elektronik, dan sebagainya. Dengan demikikan hypermarket adalah
took eceran yang mengombinasikan pasar swalayan dan pemberi diskon lini
penuh.
Warehouse merupakan ritel yang menjual
produk makanan yang jenisnya terbatas
dan produk-produk umum dengan layanan
yang minim pada tingkat harga yang
rendah terhadap konsumen akhir dan
bisnis kecil. Ukurannya antara lebihdari
5
13.000 meter persegi dan lokasinya biasanya di luar kota. Pada jenis ritel ini,
interior yang digunakan lebih sederhana. Produk yang dijual meliputi makanan
dan produk umum biasa lainnya.
Tabel 1.1. Karakteristik Ritel berorientasi Makanan
Keterangan Convenience Store
Supermarket
Supercenter Warehouse Store
Hypermarket Area
penjualan <350 m2 1.500- 3.000m2 3.000-10.000 >13.000m2 >18.000m2
Jumlah
pengecekan
1-3
6-10
>20
>20
>30 Jumlah
Barang 3.000-4.000 8.000-12.000 12.000- 20.000 5.000-8.000 >25.000 Penekanan
utama Kebutuhan
sehari-hari Makanan
hanya 5%
dan barang
dagangan
One stop
shopping,
barang
dagangan 20- 25%
penjualan
Harga rendah,
60%
nonmakanan
dan 40%
makanan
One stop
shopping 40%
penjualan dari
item
nonmakanan Margin
kotor 25-30% 16-22% 15-18% 10-11% 12-15%
Sumber: Levy dan Weitz, Retail Management, 2004 (ada ebooknya yang bisa didownload di
folder “Bahan Bacaan”) c. Convenience store Convenience store memiliki variasi dan jenis
produk yang terbatas. Luas lantai ritel jenis ini
berukuran kurang dari 350 meter persegi dan
bisanya didefinisikan sebagai pasar swalayan
mini yang menjual hanya lini terbatas dari
berbagai produk kebutuhan sehari-hari yang
perpurannya relative tinggi. Convenience store ditujukan kepada konsumen yang
membutuhkan pembelian dengan cepat tanpa
6
harus mengeluarkan upaya yang besar dalam mencari produk-produk yang
diinginkannya. Produk-produk yang dijual biasanya ditetapkan dengan harga yang lebih
tinggi daripada di supermarket.
d. General Merchandise retail Toko diskon Toko khusus Toko kategori Department store Off-price retailing Value retailing
B. PENGELOMPOKKAN BERDASARKAN SARANA YANG DIGUNAKAN
1. Penjualan Melalui toko 2. Penjualan tidak melalui toko Ritel elektronik (toko online) Catalog dan pemasaran surat langsung Penjualan langsung Television homeshopping Vending machine retailing ------------------->
C. PENGELOMPOKKAN BERDASARKAN KEPEMILIKAN Pendirian toko tunggal atau mandiri Jaringan perusahaan Waralaba
Contoh waralaba
7
Ringkasan
Peluang Ritel di Indonesia
Indonesia kembali terbukti menjadi pasar empuk bagi peritel asing. Dalam laporan terbarunya,
PricewaterhouseCoopers International Ltd (PWC) memprediksi, industri ritel dan konsumer di Asia
Pasifik akan tumbuh rata-rata 6% selama 2011 hingga 2015. Angka ini menjadikan Asia Pasifik sebagai
kawasan dengan tingkat pertumbuhan ritel tertinggi dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa yang
diperkirakan hanya tumbuh 1% pada periode sama.
Di tahun 2015, PWC memperkirakan penjualan ritel di Asia Pasifik akan mencapai US$ 10,5 triliun,
melesat 59% dari perkiraan penjualan ritel tahun ini sebesar US$ 6,6 triliun. Meksi berprospek cerah,
krisis ekonomi global yang tak menentu berpotensi memperlambat laju ekspansi di Asia dalam waktu
dekat.
Meski begitu, pengusaha tidak perlu khawatir. Tantangan ini akan diimbangi dengan pertumbuhan kelas
menengah dan kenaikan pendapatan di Asia. Alhasil, ini merupakan peluang besar bagi peritel. Adapun,
tingkat pertumbuhan ritel di Indonesia berada di kisaran 4,5%-5% per tahun selama kurun waktu tahun
2012-2015. Menurut Ay Tjing Phan, Ketua Consumer and Industrial Products & Service PWC Indonesia,
pertumbuhan ritel dan konsumer di Indonesia akan lebih kuat dari Jepang, Korea Selatan, dan Australia,
walau tetap lebih rendah dari China.
FORMAT RITEL
STORE Nonstore
Katalog Penjualan elektornik Penjualan mealui
surat Mesin penjual Penjualan langsung Penjualan melalui
telepon Penjualan maya/ ecommerce
Ritel barang dagangan
umum
Specialty store Variety store Department store Off proccess store Factory outlet
Ritel berorientasi
makanan:
Convenience store Supermarket Supercenter Grosir Hypermarket
8
Meskipun perekonomian nasional kini dihadapkan kepada dampak krisis ekonomi global, namun bisnis
ritel modern di Indonesia tidak terkendala bahkan masih menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Hal itu dikarenakan potensi pasar di Indonesia masih cukup besar dan menguatnya usaha kelas
menengah dan kecil, telah menambah banyaknya kelompok masyarakat berpenghasilan menengah-atas
yang memiliki gaya hidup belanja di ritel modern.
Tugas
Kirimkan ke Edmodo di “Tugas Minggu 1” 1. Lakukan eksplorasi ke lapangan untuk melihat kondisi toko-toko ritel yang ada di sekitar
Anda, khususnya di sebuah mall. Amati mana saja toko yang ramai pembeli dan yang
sepi. Apa-apa saja yang kira-kira menjadi penyebab sebuah toko sepi dan mengapa ada
yang ramai? Lakukan wawancara jika perlu untuk menunjang kesimpulan Anda. 2. Mengapa Convenience store yang menjual dengan harga lebih mahal bisa tetap diminati
pelanggannya? 3. Menurut Anda, apa yang paling penting dalam mengelola usaha toko? 4. Jika Anda memulai usaha ritel, apa yang menjadi penghambat terbesarnya? Apa rencana
Anda untuk mengatasi hambatan tersebut?
Tugas ini adalah tugas individu bukan kelompok, namun Anda harus berdiskusi dalam
kelompok untuk saling memperkaya pengamatan dan pemikiran. Kerjakan tugas ini
dengan Ms Word, tambahkan foto-foto pelengkap untuk menunjang laporan eksplorasi
Anda ke lapangan. Jawab pertanyaan di dalam file yang sama dan kirimkan lewat Edmodo.
Tujuan Belajar
Setelah mempelajari modul ini, anda diharapkan dapat:
1. Mengetahui tren dalam industri ritel 2. Memahami fungsi dan karakteristik dasar ritel 3. Mengetahui peluang bisnis ritel di Indonesia
Format Bisnis Ritel
Kata ritel berasal dari bahasa Prancis, retallier,
yang berarti memotong atau memecah sesuatu.
Usaha ritel atau eceran (retailing) dapat dipahami
sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam
penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan
bukan penggunaan bisnis. Ritel juga merupakan
perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang
melakukan penambahan nilai terhadap produk- produk dan layanan penjualan kepada para
konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga.
Ritel juga melibatkan layanan jasa, seperti jasa layanan antar (delivery service) ke rumah-rumah.
Tidak semua ritel dilakukan di dalam toko. Contoh ritel yang dilakukan di luar toko (non-store)
antara lain penjualan album rekaman di Internet, penjualan langsung (direct sales) kosmetik
AVON, maupun penggunaan media lainnya seperti katalog atau daftar belanja. Kegiatan yang
dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk, jasa atau keduanya kepada
konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun bersama.
Para peritel berupaya memuaskan kebutuhan
konsumen dengan mencari kesesuaian antara
barang-barang yang dimilikinya dengan harga,
tempat dan waktu yang diinginkan pelanggan. Ingat
kiat sukses peritel. Coba pikirkan bahwa ritel sebagai
kegiatan terakhir dalam jalur distribusi yang
menghubungkan produsen dan konsumen.
2
PRODUSEN → PEDAGANG BESAR →RITEL → KONSUMEN AKHIR
Selama 20 tahun terakhir ini, telah banyak bermunculan format ritel-ritel baru. Konsumen saat
ini dimungkinkan untuk membeli produk yang sama dari format ritel yang berbeda, hal ini
menunjukkan bahwa sebenarnya tidak mudah melakukan pengklasifikasian ritel, mengingat
beberapa ritel dengan format yang berbeda ternyata menyediakan barang dengan jenis yang
sama. Sebagai contoh, sebuah hypermarket menyediakan pula sejumlah produk fashion
(busana) maupun elektronik. Di sisi lain terdapat beberapa tipe ritel baru yang dapat
berdampingan dengan ritel tradisional.
Ritel-ritel tersebut menawarkan keuntungan-keuntungan berbeda bagi konsumen sehingga
konsumen menjadi tertarik untuk membeli pada ritel tersebut. Ritel sebelumnya hanya
bertindak sebagai bisnis lokal yang dikelola dan dioperasikan oleh orang-orang yang menetap
dalam komunitas yang sama dengan lokasi bisnis ritel. Namun saat ini fenomena tersebut
sudah berubah. Berbagai ritel asing seperti Walt-Mart, Giant, dan Carrefour mulai menjadi
perusahaan global yang mampu melakukan ekspansi pasar hingga ke berbagai negara di dunia.
Perbedaan yang Mendasar dan Terus Berkembang dalam Format Ritel
Sejalan dengan munculnya beragam format ritel
baru, saat ini konsumen dapat membeli barang
yang sama dari sejumlah ritel berbeda. Contohnya
hypermarket yang menekan keberadaan
supermarket dalam format ritel barang dagangan
kategori makanan di Indonesia. Masing-masing
format ritel menargetkan segmen pasar yang
berbeda dan yang menggambarkan tren atau
kecenderungan terhadap keanekaragaman barang
dagangan yang semakin meningkat. Supermarket
(dengan luas area antara 1.500-3.000 meter persegi) dapat dikategorikan sebagai format utama
3
sedang format lain yang lebih kecil adalah minimarket seperti Alfa Minimarket. Ritel jenis ini
biasanya berupa toko yang lebih kecil yang dibangun di lokasi pinggiran kota. Tiap jenis ritel
menawarkan manfaat yang berbeda, sehingga para konsumen bisa berlangganan pada ritel
yang berbeda untuk pembelian dan kebutuhan yang berbeda.
Karakteristik Dasar Ritel Karakteristik dasar ritel dapat dipergunakan sebagai dasar mengelompokkan jenis ritel.
Terdapat tiga karakteristik dasar yaitu: a) Pengelompokkan berdasarkan unsur-unsur yang digunakan ritel untuk memuaskan
kebutuhan konsumen b) Pengelompokkan berdasarkan sarana atau media yang digunakan c) Pengelompokkan berdasarkan kepemilikan
A. PENGELOMPOKKAN BERDASARKAN UNSUR-UNSUR YANG DIGUNAKAN RITEL UNTUK
MEMUASKAN KEBUTUHAN KONSUMEN 1. Jenis barang yang dijual 2. Perbedaan dan keanekaragaman barang yang dijual 3. Tingkat layanan konsumen 4. Harga barang Berdasarkan unsur-unsur diatas, ritel dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Supermarket tradisional
Supermarket traditional melayani
penjualan makanan, daging, serta produk
produk makanan lainnya, serta melakukan
pembatasan penjualan terhadap produk
produk nonmakanan, seperti produk
kesehatan, kecantikan, dan produk-produk
umum lainnya. Sedangkan supermarket
konvensional yang lebih luas yang juga
menyediakan layanan antar, menjual roti
dan kue-kue (bakery), bahan makanan mentah serta produk nonmakanan disebut
sebagai superstore.
4
b. Big-box retailer Lebih dari 25 tahun berikutnya, supermarket mulai berkembang dengan semakin memperluas ukuran dan mulai menjual berbagai produk luar negeri yang bervariasi.
Pada format big-box retailer, terdapat beberapa jenis supermarket, yaitu supercenter,
hypermarket, dan warehouse club. Supercenter adalah supermarket yang
mempunyai luas lantai 3.000 sampai
10.000 meter persegi dengan variasi
produk yang dijual, untuk makanan
sebanyak 30-40% dan produk-produk
nonmakanan sebanyak 60-70%.
Supermarket jenis ini termasuk
supermarket yang tumbuh dengan cepat.
Persediaan yang dimiliki berkisar antara 12.000-20.000 item. Supermarket jenis
ini memiliki kelebihan sebagai tempat belanja dalam satu atap (one stop
shopping) sehingga banyak pengunjungnya yang datang dari tempat jauh.
Hypermarket merupakan supermarket
yang memiliki luas antara lebih dari 18.000 persegi dengn kombinasi produk makanan
60-70% dan produk-produk umum 30- 40%. Hypermarket merupakan salah satu
betnuk supermarket yang memiliki
persediaan lebih sedikit dibanding
supercenter, yaitu lebih dari 25.000 item
yang meliputi produk makanan, perkakas
(hardware), peralatan olahraga, furniture, perlengkapan rumah tangga,
computer, elektronik, dan sebagainya. Dengan demikikan hypermarket adalah
took eceran yang mengombinasikan pasar swalayan dan pemberi diskon lini
penuh.
Warehouse merupakan ritel yang menjual
produk makanan yang jenisnya terbatas
dan produk-produk umum dengan layanan
yang minim pada tingkat harga yang
rendah terhadap konsumen akhir dan
bisnis kecil. Ukurannya antara lebihdari
5
13.000 meter persegi dan lokasinya biasanya di luar kota. Pada jenis ritel ini,
interior yang digunakan lebih sederhana. Produk yang dijual meliputi makanan
dan produk umum biasa lainnya.
Tabel 1.1. Karakteristik Ritel berorientasi Makanan
Keterangan Convenience Store
Supermarket
Supercenter Warehouse Store
Hypermarket Area
penjualan <350 m2 1.500- 3.000m2 3.000-10.000 >13.000m2 >18.000m2
Jumlah
pengecekan
1-3
6-10
>20
>20
>30 Jumlah
Barang 3.000-4.000 8.000-12.000 12.000- 20.000 5.000-8.000 >25.000 Penekanan
utama Kebutuhan
sehari-hari Makanan
hanya 5%
dan barang
dagangan
One stop
shopping,
barang
dagangan 20- 25%
penjualan
Harga rendah,
60%
nonmakanan
dan 40%
makanan
One stop
shopping 40%
penjualan dari
item
nonmakanan Margin
kotor 25-30% 16-22% 15-18% 10-11% 12-15%
Sumber: Levy dan Weitz, Retail Management, 2004 (ada ebooknya yang bisa didownload di
folder “Bahan Bacaan”) c. Convenience store Convenience store memiliki variasi dan jenis
produk yang terbatas. Luas lantai ritel jenis ini
berukuran kurang dari 350 meter persegi dan
bisanya didefinisikan sebagai pasar swalayan
mini yang menjual hanya lini terbatas dari
berbagai produk kebutuhan sehari-hari yang
perpurannya relative tinggi. Convenience store ditujukan kepada konsumen yang
membutuhkan pembelian dengan cepat tanpa
6
harus mengeluarkan upaya yang besar dalam mencari produk-produk yang
diinginkannya. Produk-produk yang dijual biasanya ditetapkan dengan harga yang lebih
tinggi daripada di supermarket.
d. General Merchandise retail Toko diskon Toko khusus Toko kategori Department store Off-price retailing Value retailing
B. PENGELOMPOKKAN BERDASARKAN SARANA YANG DIGUNAKAN
1. Penjualan Melalui toko 2. Penjualan tidak melalui toko Ritel elektronik (toko online) Catalog dan pemasaran surat langsung Penjualan langsung Television homeshopping Vending machine retailing ------------------->
C. PENGELOMPOKKAN BERDASARKAN KEPEMILIKAN Pendirian toko tunggal atau mandiri Jaringan perusahaan Waralaba
Contoh waralaba
7
Ringkasan
Peluang Ritel di Indonesia
Indonesia kembali terbukti menjadi pasar empuk bagi peritel asing. Dalam laporan terbarunya,
PricewaterhouseCoopers International Ltd (PWC) memprediksi, industri ritel dan konsumer di Asia
Pasifik akan tumbuh rata-rata 6% selama 2011 hingga 2015. Angka ini menjadikan Asia Pasifik sebagai
kawasan dengan tingkat pertumbuhan ritel tertinggi dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa yang
diperkirakan hanya tumbuh 1% pada periode sama.
Di tahun 2015, PWC memperkirakan penjualan ritel di Asia Pasifik akan mencapai US$ 10,5 triliun,
melesat 59% dari perkiraan penjualan ritel tahun ini sebesar US$ 6,6 triliun. Meksi berprospek cerah,
krisis ekonomi global yang tak menentu berpotensi memperlambat laju ekspansi di Asia dalam waktu
dekat.
Meski begitu, pengusaha tidak perlu khawatir. Tantangan ini akan diimbangi dengan pertumbuhan kelas
menengah dan kenaikan pendapatan di Asia. Alhasil, ini merupakan peluang besar bagi peritel. Adapun,
tingkat pertumbuhan ritel di Indonesia berada di kisaran 4,5%-5% per tahun selama kurun waktu tahun
2012-2015. Menurut Ay Tjing Phan, Ketua Consumer and Industrial Products & Service PWC Indonesia,
pertumbuhan ritel dan konsumer di Indonesia akan lebih kuat dari Jepang, Korea Selatan, dan Australia,
walau tetap lebih rendah dari China.
FORMAT RITEL
STORE Nonstore
Katalog Penjualan elektornik Penjualan mealui
surat Mesin penjual Penjualan langsung Penjualan melalui
telepon Penjualan maya/ ecommerce
Ritel barang dagangan
umum
Specialty store Variety store Department store Off proccess store Factory outlet
Ritel berorientasi
makanan:
Convenience store Supermarket Supercenter Grosir Hypermarket
8
Meskipun perekonomian nasional kini dihadapkan kepada dampak krisis ekonomi global, namun bisnis
ritel modern di Indonesia tidak terkendala bahkan masih menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Hal itu dikarenakan potensi pasar di Indonesia masih cukup besar dan menguatnya usaha kelas
menengah dan kecil, telah menambah banyaknya kelompok masyarakat berpenghasilan menengah-atas
yang memiliki gaya hidup belanja di ritel modern.
Tugas
Kirimkan ke Edmodo di “Tugas Minggu 1” 1. Lakukan eksplorasi ke lapangan untuk melihat kondisi toko-toko ritel yang ada di sekitar
Anda, khususnya di sebuah mall. Amati mana saja toko yang ramai pembeli dan yang
sepi. Apa-apa saja yang kira-kira menjadi penyebab sebuah toko sepi dan mengapa ada
yang ramai? Lakukan wawancara jika perlu untuk menunjang kesimpulan Anda. 2. Mengapa Convenience store yang menjual dengan harga lebih mahal bisa tetap diminati
pelanggannya? 3. Menurut Anda, apa yang paling penting dalam mengelola usaha toko? 4. Jika Anda memulai usaha ritel, apa yang menjadi penghambat terbesarnya? Apa rencana
Anda untuk mengatasi hambatan tersebut?
Tugas ini adalah tugas individu bukan kelompok, namun Anda harus berdiskusi dalam
kelompok untuk saling memperkaya pengamatan dan pemikiran. Kerjakan tugas ini
dengan Ms Word, tambahkan foto-foto pelengkap untuk menunjang laporan eksplorasi
Anda ke lapangan. Jawab pertanyaan di dalam file yang sama dan kirimkan lewat Edmodo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar